Istilah De Javu dan Jamais Vu

14 03 2009

Dalam kehidupan sehari-hari sering mendengar istilah-istilah “DE JAVU” dan mungkin juga “JAMAIS VU.  De javu mungkin lebih populer dari Jamais vu, namun dua duanya punya akar anatomis yang sama yaitu gangguan dari fungsi memory.

Jamais Vu di definisikan sebagi pengalaman yang sering terjadi tetapi serasa baru pertama kali mengalaminya. Sering terjadi pada penderita Epilepsy lobus temporalis atau pada penderita dengan amnesia/gangguan fungsi memory. Sedangkan Dejavu didefinisikan sebagai pengalaman bahwa peristiwa yang dialami saat ini serasa pernah dialami dengan situasi dan kondisi yang sama.

Proses untuk terjadinya De javu ini adalah, dimana di otak yang berfungsi untuk memory di limbic system dengan focusnya di hypocampus, terjadi aksi neurochemical yang membangkitkan impuls elektrisk yang spesifik yang di persepsikan sebagai pengalaman yang telah terjadi dan pernah dialami.

Dari persepsi telah terjadi dan pernah dialami ini, ada mis persepsi atau salah anggapan di banyak orang bahwa dejavu karena gangguan memory/pelupa atau karena memiliki kekuatan supranatural atau proses reinkarnasi. Ini sebuah anggapan yang salah dan tidak berdasar pada fakta empiris proses di otak. Yang sekali lagi prinsipnya adalah terjadinya proses neurochemiscal di daerah otak yang fungsinya untuk memory, meski demikian tidak ada gangguan memory dan tidak ada hubungannya dengan memory proses dejavu ini.

De javu sering terjadi pada penderita gangguan psikiatris atau pada penderita epilepsy. Nah apa yang harus di lakukan? jika de javu ini sering terjadi pada anda… segera periksa ke dokter Spesialis Jiwa / Psikiater. Pastikan gangguannya apakah gangguan psikiatris atau Epilepsy. Semoga bermanfaat.

dr. Muh Iqbal


Actions

Information

9 responses

15 03 2009
wira

kurang analogi dok pembahasanx……..yah jdx nerka2 aja apa maksudx……hehehe

16 03 2009
muh iqbal

hehe..dejavu adalah istilah paling populer saat ini. sy sering de javu juga serasa pernah lihat seorg cewek tapi dimana yaaah? ternyata cuman rasanya pernah lihat tapi kenyataanya tidak pernah ketemu sebelumnya!!

16 03 2009
jojok

ealahh.. kirain punya kemampuan supra natural, jebul gangguan jiwa toh dok.. haha..
tapi gini.. saya sering keliling daerah pake motor gitu, pas lewat satu jalur, kadang terkaget-kaget, kok rasanya pernah lewat daerah ini. nah setelah diliat-liat ternyata kontur dan habitat daerah itu memang mirip.. kelas jalannya juga mirip, hutan-hutan, kelokan jalan… kalau yang kayak gini bukan dejavu toh ?

16 03 2009
chee11

ok…bagus tulisannya…..

17 03 2009
muh iqbal

mas jojok > sy juga biasa begitu kayaknya kita kayaknya perlu memeriksakan diri nanti merasa reinkarnasi kita dulu yang pernah kesitu bisa berabe hehehehe

chee11>thanks bu!! kayaknya biasa saja!

31 03 2009
sjahrir

Saya pernah mengalami masa suka menulis… lalu saya jauh merenungi bagaimana bisa mengendalikan binatang dalam komunikasi bertahap. Tapi saya berhenti setelah sekali waktu masuk perpustakaan di Unhas, ketemu satu buku tua, di dalamnya berisi secara jelas apa yang saya renungkan… Saya lalu berhenti sebab ternyata pemikiran itu telah ada bahkan telah ditebitkan demikian lamanya….

1 04 2009
muh iqbal

wah pengalaman menarik pak tentang sinergitas pemikiran dengan orang-orang terdahulu!!

17 10 2009
Putri

Selain deja vu dan jamais vu
Kata dosen psikiatri saya ada satu lagi yg semacam itu ..
Apa ya ?

18 10 2009
muh iqbal

Sebenarnya ada 10 fenomena mengalaman otak apakah itu merupakan suatu kelainan organik otak atau tidak :

Deja vu
Deja vu adalah pengalaman tertentu akan sesuatu yang sedang berlangsung di mana anda sudah mengalaminya atau melihat situasi baru itu sebelumnya – anda merasa seolah-olah peristiwa telah terjadi atau sedang mengulanginya. Pengalaman itu biasanya disertai oleh perasaan yang kuat seperti sudah mengenal dan suatu perasaan berupa kengerian, asing, atau aneh. Pengalaman “yang sebelumnya” ini biasanya berhubungan dengan mimpi, tetapi kadang-kadang ada suatu perasaan pasti bahwa itu sudah terjadi di masa lalu.

Deja Vecu
Deja vecu (Dibaca deya vay-koo) adalah apa yang dialami banyak orang ketika mereka berpikir sedang mengalami deja vu. Deja vu adalah perasaan telah melihat sesuatu sebelumnya, sedangkan deja vecu adalah pengalaman setelah melihat suatu peristiwa sebelumnya, tapi hanya di dalam detil yang besar – seperti mengenali bau-bauan dan bunyi-bunyian. Hal ini juga biasanya disertai oleh suatu perasaan yang sangat kuat akan pengetahuan sesuatu yang akan datang kemudian. Pengalaman yang pernah terjadi – tidak hanya mengenal apa yang akan datang berikutnya – tetapi juga mampu mengatakan kepada orang di sekitar apa yang akan datang itu, dan biasanya itu adalah benar. Ini sangat aneh dan sensasi yang tidak bisa dijelaskan.

Deja Visite
Deja Visite adalah pengalaman yang hanya sedikit orang mengalaminya di mana melibatkan suatu pengetahuan gaib akan suatu tempat yang baru. Sebagai contoh, anda mungkin pernah mengetahui jalur jalan di suatu kota yang baru anda datangi atau pemandangannya meskipun tidak pernah ke sana sebelumnya, dan anda yakin mustahil mempunyai pengetahuan tentang itu. Kalau Deja Visite tentang hubungan-hubungan geografis dan ruang, selagi Deja Vecu adalah tentang kejadian-kejadian sementara waktu. Nathaniel Hawthorne menulis tentang sebuah pengalaman seperti ini di dalam bukunya “Our Old Home” di mana dia mengunjungi sebuah benteng yang sudah hancur dan mempunyai pengetahuan lengkap mengenai denah tata letaknya. Ia kemudiannya mampu melacak pengalaman itu dalam sebuah puisi karangan Alexander Pope yang dibacanya beberapa tahun kemudian. Puisi itu menggambarkan keadaan benteng itu dengan akurat persis seperti yang diketahuinya.

Deja Senti
Deja Senti adalah fenomena akan sesuatu yang pernah dirasakan. Hal ini eksklusif sebuah fenomena kejiwaan dan jarang menetap di dalam ingatan anda setelah itu. Di dalam kata-kata dari orang setelah mengalaminya adalah: “Apa yang menjadi perhatian adalah apa yang sudah diperhatikan sebelumnya, dan sungguh sudah dikenal, tetapi sudah dilupakan untuk sementara waktu, dan sekarang merasa puas seakan-akan hal itu telah diingat kembali. Kemampuan mengingat itu selalu dimulai dengan suara orang lain, atau oleh perkataan dari pikiranku sendiri, atau dengan apa yang kubaca dan perkataan jiwa. Aku pikir selama keadaan tidak normal aku berkata-kata secara umum beberapa kalimat sederhana seperti ‘Oh, ya. Aku mengerti’, ‘Tentu saja, aku ingat’, dan lain-lain, hanya satu atau dua menit kemudian aku dapat mengingat kembali semuanya, dengan tidak memerlukan kata-kata maupun pemikiran yang dinyatakan dengan lisan untuk menimbulkan ingatan. Aku hanya mendapatkan bahwa perasaan itu serupa dengan apa yang sudah kurasakan sebelumnya di dalam kondisi tidak normal seperti itu.”
Anda berpikir baru saja mengucapkannya, tetapi anda juga menyadari bahwa sesungguhnya tidak mengucapkan suatu kata pun.

Jamais Vu
Jamais vu (tidak pernah melihat) digambarkan sebagai sebuah situasi sudah pernah dikenal tapi tidak bisa mengenali. Hal itu sering dianggap sebagai kebalikan dari deja vu dan menimbulkan perasaan ngeri dan takut. Anda tidak mengenali sebuah situasi meskipun anda mengetahui secara rasional bahwa anda telah berada di dalam situasi itu sebelumnya. Secara umum dapat dijelaskan ketika seseorang beberapa saat tidak mengenali seseorang, kata, atau tempat yang sebetulnya sudah diketahuinya. Ini menjadikan orang percaya bahwa jamais vu merupakan sejenis gejala dari kelelahan otak.

Presque Vu
Presque vu sering diungkapkan dengan kata-kata, “serasa sudah di ujung lidah” – merupakan perasaan yang kuat bahwa anda akan mendapatkan petunjuk atau ilham akan apa yang terlupa, tapi tidak pernah datang. Istilah “presque vu” artinya “hampir melihat”. Sensasi presque vu dapat sangat mengacaukan perasaan dan pikiran, dan seringkali orang sudah tidur dibuatnya.

L’esprit de l’Escalier
L’esprit de l’escalier (lelucon di tangga rumah) adalah rasa untuk berpikir suatu komentar balasan yang cerdas ketika hal itu sudah terlambat untuk disampaikan. Ungkapan itu dapat digunakan untuk menguraikan tentang komentar balasan yang cepat terhadap penghinaan, atau setiap komentar pintar dan jenaka, walaupun kedatangannya sudah terlambat dan tidak berguna lagi diumpamakan kita berpikir ketika sudah berada di atas tangga meninggalkan suatu kejadian. Sebuah kata dari bahasa Jerman “treppenwitz” digunakan untuk maksud yang sama. Ungkapan yang terdekat di dalam bahasa Inggris untuk menguraikan situasi ini adalah “being wise after the event” atau menjadi bijaksana setelah kejadian. Peristiwa itu biasanya disertai oleh perasaan penyesalan karena tidak terpikirkan sebelumnya untuk memberikan komentar balasan yang cepat di saat diperlukan. Tapi mungkin lebih bijaksana kalau kita berpikir bahwa balasan itu mungkin bisa merunyamkan hubungan. Tuhan menyintai orang yang sabar dan menahan diri.

Capgras Delusion
Capgras delusion adalah fenomena di mana seseorang percaya bahwa sahabat karib atau keluarganya sudah berganti identitas seperti seorang penipu. Hal ini berhubungan dengan kepercayaan kuno bahwa bayi-bayi telah dicuri dan digantikan oleh peri penculik anak dalam dongeng-dongeng di abad pertengahan, seperti juga khayalan modern mengenai makhluk asing atau alien yang mengambil alih tubuh dari orang-orang di bumi untuk dijadikan sekutu mereka. Khayalan ini ditemukan paling umum pada pasien berpenyakit jiwa, tetapi tidak menutup kemungkinan itu juga sudah mengacaukan pikiran anda.

Fregoli Delusion
Fregoli Delusion adalah fenomena otak yang jarang terjadi, di mana seseorang mempercayai bahwa orang-orang yang berbeda, sesungguhnya adalah orang yang sama yang sedang menyamar. Hal itu sering dihubungkan dengan paranoid dan kepercayaan bahwa orang yang menyamar itu sedang berusaha untuk menganiaya dirinya. Kondisi itu diberi nama seperti aktor Italia, Leopoldo Fregoli yang terkenal dengan kemampuannya untuk merubah diri secara cepat selama penampilannya aktingnya. Laporan pertama di 1927 dalam sebuah studi kasus pada seorang wanita berusia 27 tahun yang percaya dia sedang dianiaya oleh dua yang aktor yang sering dilihatnya di sebuah teater. Dia percaya kalau orang-orang ini “mengejarnya terus-menerus dengan berubah wujud seperti orang-orang yang dikenalnya”.

Prosopagnosia
Prosopagnosia adalah fenomena di mana seseorang tidak mampu mengenali wajah-wajah orang atau obyek yang seharusnya sudah dikenal. Orang-orang yang mengalami kekacauan ini biasanya mampu menggunakan perasaan lainnya untuk mengenali orang-orang, seperti bau parfum seseorang, bentuk atau gaya rambut, suara, atau bahkan gaya berjalan mereka. Suatu kasus yang klasik dari kekacauan ini dimuat dalam sebuah buku yang terbit tahun 1998 dan pernah ditampilkan dalam bentuk opera Michael Nyman berjudul “The man who mistook his wife for a hat” atau orang yang keliru akan istrinya karena topinya.

Leave a comment