Phenylpropanolamine

Posted: April 22, 2009 in Info
Tags: , , , , ,

Phenylpropanolamine (PPA) yang terkandung pada obat flu dan obat batuk termasuk dalam golongan simpatomimetik (termasuk efedrin, fenilefrin, pseudoefedrin) tidak boleh digunakan oleh pasien darah tinggi, hipertiroid, penyakit jantung, diabetes, glaukoma, hipertropi prostat atau pasien yang sedang mengonsumsi obat antidepresan golongan penghambat monoamin oxidase (MAO). Tetapi dewasa ini penggunaanya yang tidak benar dan dipakai untuk obat pelangsing memunculkan berbagai efek samping terutama pada perempuan yaitu hemoragik stroke atau pendarahan akibat pecahnya pembuluh darah otak.Beberapa berita terkait dengan PPA dinegara ini yang menjelaskan bahwa tidak ditemukannya kasus efek samping(??) dan BPOM sendiri tidak pernah menarik obat jenis ini !!

Tidak Ditemukan Kasus Efek Samping Phenylpropanolamine

Sejauh ini tidak ada laporan kasus efek samping pemakaian phenylpropanolamine atau PPA di dalam obat flu dan batuk. Badan Pengawas Obat dan Makanan menilai pemakaian PPA di dalam obat flu dan batuk di Indonesia terbilang rendah dosisnya, hanya 15-25 miligram per dosis atau 75 mg per hari.

Penarikan obat yang mengandung PPA di AS diduga ada hubungan antara hemorrhagic stroke dan penggunaan PPA dosis besar sebagai obat pelangsing. PPA dosis besar sebagai obat pelangsing di AS dijual sebagai obat bebas. Di Indonesia, PPA tidak pernah disetujui sebagai obat pelangsing.

Apabila obat digunakan sesuai aturan pakai yang telah ditetapkan efek samping yang ditimbulkan umumnya ringan dan bersifat sementara. Efek samping tersebut dapat berupa rasa mengantuk, sakit kepala, mual, muntah, gelisah atau susah tidur.

BPOM Tak Pernah Tarik Phenylpropanolamine

Badan Pengawas Obat dan Makanan menyanggah mengeluarkan berita mengenai dilarangnya kandungan phenylpropanolamine/PPA dalam obat batuk dan flu yang beredar di Indonesia.

Tidak benar pada tanggal 1 Maret 2009 US-FDA mengeluarkan pengumuman tentang penarikan PPA. Saat ini tidak ada informasi terbaru terkait keamanan PPA. Pada bulan November 2000, US-FDA menarik obat yang mengandung PPA karena diduga ada hubungan dengan perdarahan otak dengan penggunaan PPA dosis besar sebagai obat pelangsing.

dr. Muh. Iqbal

Comments
  1. sjahrir says:

    Di Indonesia, pemantauan efek samping obat memang tak dilakukan. Bahkan hingga kini pemantauan distribusipun payah…, makanya pemerintah kita hanya suka melarang satu produk hanya jika beberapa negara telah lebih dahulu bersikap dan mengambil keputusan.
    Keseriusan mereka yang punya kompetensi untuk melindungi masyarakat memang sangat lemah di negeri ini. Pengawasan terhadap antibiotik yang banyak diperpanjang espire datenya pun nyaris tak masuk di pikiran Badan POM kita, padahal cerita lama ini lebih potensial terjadi saat ini. Siapa mau peduli ?

  2. muh iqbal says:

    betul itu pak, semuanya pada tidak beres!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s